Di Tengah Anggaran Menyusut Berau Perkuat Kolaborasi Dengan Dunia Usaha
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ketika anggaran daerah semakin terbatas akibat kebijakan efisiensi, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menegaskan satu komitmen penting dalam mendukung pembangunan untuk masyarakat tidak boleh ikut melambat, maka tanggung jawab sosial perusahaan harus tetap berjalan.
Kondisi itu membuat
Pemkab Berau harus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha. Bupati Sri
Juniarsih meminta koordinasi yang lebih intensif antara Dinas Pekerjaan Umum
dan Penataan Ruang (DPUPR), camat, serta perusahaan agar perbaikan jalan bisa
dilakukan lebih cepat melalui pola gotong royong.
Skema yang ditawarkan
pun sederhana dan praktis. Pemerintah daerah melakukan pemotongan pada ruas
jalan yang rusak, sementara perusahaan membantu penanganan lanjutan melalui
semenisasi.
“Kalau menggunakan
APBD, prosesnya panjang karena harus mengikuti regulasi. Sementara kami harus
melayani 13 kecamatan dan 100 kampung,” katanya.
Seperti kondisi jalan menuju Kecamatan Segah yang
hingga kini masih dipenuhi lubang dan gelombang. Infrastruktur yang rusak
tersebut dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga
menghambat aktivitas ekonomi kampung.
“Untuk itu kami bukan
hanya meminta, tapi memaksa. Tidak usah dibangun jalan baru, yang penting
masyarakat tidak lagi merasakan jalan bergelombang dan berlubang,” tegas Sri
Juniarsih.
Dalam kesempatan itu
Bupati Sri Juniarsih Mas juga mengakui bahwasanya Pemkab Berau
telah berupaya melakukan perbaikan melalui dana bagi hasil sawit. Namun,
penurunan signifikan dana tersebut membuat ruang gerak pemerintah daerah
semakin terbatas.
“Karenanya tadi
sempat sepanjang perjalanan menuju ibu kota Kecamatan Segah melihat masih
banyak jalan berlubang. Untuk membangun jalan, tentu kami memiliki keterbatasan
pendanaan, baik dari APBD maupun provinsi,” ujarnya.
Di Kecamatan Segah
sendiri terdapat 22 perusahaan tambang dan perkebunan kelapa sawit. Namun,
Bupati menilai kontribusi Corporate Social Responsibility (CSR) dari
perusahaan-perusahaan tersebut masih perlu diperkuat agar benar-benar dirasakan
langsung oleh masyarakat.
“Perusahaan harus
mengambil peran. Jangan hanya mengambil kekayaan daerah, tetapi CSR tidak
transparan dan tidak berdampak ke masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan
bahwa penurunan kuota produksi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi
tanggung jawab sosial perusahaan.
“Kuota produksi boleh
berkurang, tapi kewajiban CSR tidak boleh hilang. Itu bentuk tanggung jawab
perusahaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain perbaikan
jalan, Sri Juniarsih mendorong pemanfaatan CSR untuk mendukung pengelolaan
sampah, penyediaan air bersih, serta perbaikan jalan kampung. Dalam sektor
lingkungan, ia menekankan pentingnya penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce,
Reuse, Recycle (TPS 3R) serta pengadaan insinerator ramah lingkungan.
Menurutnya, sampah
kini bukan sekadar persoalan, melainkan peluang ekonomi jika dikelola dengan
baik.
“Sampah basah bisa
dimanfaatkan, sampah plastik dan kaleng bisa diolah menjadi bahan bernilai
ekonomi. Ini peluang bagi masyarakat,” jelasnya.
Sikap tegas yang ia
sampaikan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kepentingan
masyarakat luas. Ia berharap sinergi antara pemerintah, perusahaan, masyarakat,
hingga unsur TNI-Polri dapat mempercepat perbaikan infrastruktur sekaligus
mendorong pertumbuhan ekonomi kampung.
“Kita memiliki
potensi pariwisata dan sumber daya alam yang besar. Semua pihak harus berperan
agar berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,”
pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)